Rabu, 06 Juli 2016

Manusia dan penderitaan, Manusia dan keadilan, Manusia dan



Manusia dan penderitaan


Penderitaan berasal dari kata dasar derita. Sementara itu kata derita merupakan serapan dari bahasa sansekerta, menyerap kata dhra yang memiliki arti menahan atau menanggun. Jadi dapat diartikan penderitaan merupakan menanggung sesuatu yang tidak meyenakan. Penderitaaan dapat muncul secara lahiriah, batiniah atau lahir-batin. Penderitaan secara lahiriah dapat timbul karena adanya intensitas komkosisi yang mengalami kekurangan atau berlebihan, seperti akibat kekurangan pangan menjadi kelaparan, atau akibat makan terlalu banyak menjadi kekenyangan, tidak dapat dipungkiri keduanya dapat menimbulkan penderitaan. Adapula kondisi alam yang ekstrem, seperti ketika terik matahari membuat kepanasan, atau saat kehujanan membuat kedinginan.
Ada pula penderitaan yang secara lahiriah seperti sakit hati karena dihina, sedih karena kerabat meninggal, putus asa karena tidak lulus ujian. Atau penyesalan karena tidak melakukan yang diharapkan. Sementara yang lahir-batin dapat muncul dikarenakan penderitaan pada sisi yang satu berdampak pada sisi yang lain atau dengan kata lain penderitaan lahiriah memicu penderitaan batiniah atau sebaliknya. Misal akibat kehujanan badan menjadi kedinginan namun tidak ada tempat berteduh akibatnya mendongkol, risau atau menangis. Ada pula karena putus asa tidak lulus ujian menjadi tidak mau makan dan menimbulkan perut sakit.
Penderitaan merupakan realita kehidupan manusia di dunia yang tidak dapat dielakan. Orang yang bahagia juga harus siap menghadapi tantangan hidup bila tidak yang muncul penderitaan. Dan orang yang menghadapi cobaan yang bertubi-tubi harus berpengharapan baik akan mendapatkan kebahagian. Karena penderitaan dapat menjadi energi untuk bangkit berjuang mendapatkan kebahagian yang lalu maupun yang akan datang.
Akibat penderitaan yang bermacam-macam manusia dapat mengambil hikmah dari suatu penderitaan yang dialami namun adapula akibat penderitaan menyebabkan kegelapan dalam kehidupan.
Sehingga penderitaan merupakan hal yang bermanfaat apabila manusia dapat mengambil hikmah dari penderitaan yang dialami. Adapun orang yang berlarut-larut dalam penderitaan adalah orang yang rugi karena tidak melapaskan diri dari penderitaan dan tidak mengambil hikmak dan pelajaran yang didapat dari penderitaan yang dialami.
Penderitaan juga dapat “menular” dari seseorang kepada orang lain. Misal empati dari sanak-saudara untuk membantu melepaskan penderitaan. Atau sekedar simpati dari orang lain untuk mengambil pelajaran dan perenungan.

Manusia dan keadilan


LATAR BELAKANG
Makalah ini dibuat untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan keadilan dalam kehidupan manusia. Kami menyusun makalah ini dengan beberapa referensi sehingga makalah ini bersifat comprehensive dan universal yang membahas secara luas dan dalam pandangan umum. Karena pada dasarnya dalam unsur hidup manusia harus ada keadilan untuk menentukan antara kebenaran dan kebohongan / kecurangan.
Diharapkan dengan adanya makalah kami dapat membantu dalam pembahasan dan pandangan mengenai hubungan MANUSIA DAN KEADILAN.
  PENGERTIAN KEADILAN

§  Menurut Aristoteles, Keadilan adalah kelayakandalam tindakan manusia.
§  Keadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia  sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
§  Menurut Socrates, Keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
§  Kong Hu Cu berpendapat bahwa Keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya.
§  Menurut W.J.S Poerwodarminto, kata adil berarti tidak berat sebelah dan tidak semena – mena serta tidak memihak.
§  Secara umum, Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban.
§  Berdasarkan kesadaran etis, kita diminta untuk tidak hanya menuntut hak dan lupa menjalankan kewajiban. Jika kita hanya menuntut hak dan lupa menjalankan kewajiban, maka sikap dan tindakan kita akan mengarah pada pemerasan dan memperbudak orang lain. Sebaliknya pula jika kita hanya menjalankan kewajiban dan lupa menuntut hak, maka kita akan mudah diperbudak atau diperas orang lain.
§  Makna Keadilan
Keadilan memberikan kebenaran, ketegasan dan suatu jalan tengah dari berbagai persoalan juga tidak memihak kepada siapapun. Dan bagi yang berbuat adil merupakan orang yang bijaksana.
Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa; menuntut setiap warga negara mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan tujuan akhir, baik dalam hati dan tutur kata maupun dalam tingkah laku sehari-hari. Konsekuensinya adalah Pancasila menuntut umat beragama dan kepercayaan untuk hidup rukun walaupun berbeda keyakinan.
Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab; mengajak masyarakat untuk mengakui dan memperlakukan setiap orang sebagai sesama manusia yang memiliki martabat mulia serta hak-hak dan kewajiban asasi. Dengan kata lain,  ada sikap untuk menjunjung tinggi martabat dan hak-hak asasinya atau bertindak adil dan beradap terhadapnya.
sila Ketiga, Persatuan Indonesia;  menumbuhkan sikap masyarakat untuk mencintai tanah air, bangsa dan negara Indonesia, ikut memperjuangkan kepentingan-kepentingannya, dan mengambil sikap solider serta loyal terhadap sesama warga negara.
Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahan/perwakilan;  mengajak masyarakat untuk bersikap peka dan ikut serta dalam kehidupan politik dan pemerintahan negara, paling tidak secara tidak langsung bersama sesama warga atas dasar persamaan tanggung jawab sesuai dengan kedudukan masing-masing
sila Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; mengajak masyarakat aktif dalam memberikan sumbangan yang wajar sesuai dengan kemampuan dan kedudukan masing-masing kepada negara demi terwujudnya kesejahteraan umum, yaitu kesejahteraan lahir dan batin selengkap mungkin bagi seluruh rakyat.





MACAM-MACAM KEADILAN

1.      Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (Than man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan Sunoto menyebutnya keadilan legal.
2.      Keadilan Distributif
Aristoles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are treated equally).
3.      Komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidak adilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.

Manusia dan Pandangan Hidup
Pengertian pandangan hidup Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasaikan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Pandangan Hidupmerupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Semua manusia pasti mempunyai suatu pandangan hidup sendiri – sendiri dan kemungkinan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Tak sedikit pula orang yang mempunyai pandangan hidup yang sangat bertentangan dengan pandangan hidup orang yang lainnya, itulah yang sering memicu perdebatan diantara umat manusia dalam kehidupan sehari hari
Orang yang memiliki pandangan hidup pasti memiliki tujuan, dan tujuan ini biasa di sebut cita-cita. Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Apabila cita-cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu disebut angan-angan.
Referensi




kisah Inspiratif
Kali ini saya akan membahas materi tentang kisah inspiratif yang narasumbernya adalah saya sendiri yaitu Dede Khairuddin. Pada tahun 2005 saya sempat mengalami sakit pada bagian badan saya, seperti pegal yang tak kunjung hilang. Akhirnya orang tua saya membawa saya untuk berobat disalah satu apotek yang dekat dengan rumah saya, setelah meminum obat yang diberikan oelh pihak apotek untuk beberapa hari tubuh saya pun mulai kembali sehat namun tak selang beberapa minggu badan saya merasakan sakit yang sama lagi dan akhirnya saya dibawa diapotek yang sama dengan obat yang sama. Orang tua saya pun mulai merasakan kejanggalan pada penyakit saya, pada suatu ketika badan saya tidak bisa bergerak karena lemas dan seluruh tubuh saya membiru tanpa sebab yang jelas. Orang tua saya pun panik dan membawa saya kesalah satu rumah sakit yang ada dibekasi. Dan pada saat itu saya tau bahwa penyakit yang saya derita bukan penyakit biasa penyakit itu bernama THALASEMIA. Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah yang mudah rusak, yaitu 3-4 kali lebih cepat dibandingkan sel darah normal, oleh karena itu umurnya pun relatif lebih pendek dibandingkan sel darah normal. Jika sel darah normal memiliki umur 120 hari, maka sel darah merah penderita thalasemia hanya bertahan 23 hari. Pada saat saya dirawat dirumah sakit tersebut saya melakukan transfusi darah sampai sel darah merah saya kembali seperti orang normal pada umumnya, karena sel darah merah yang mudah rusak lah yang membuat diri saya menjadi lemas tidak bertenaga. Setelah saya sembuh oranng tua saya pun bertanya kepada dokter ahli, dan alangkah kagetnya ternyata penyakit thalasemia saya ini didapat karena kesalahan pemberian obat waktu saya berobat keapotek dekat rumah saya, dokter tersebut bilang ada kemungkinan untuk sembuh dari penyakit ini cukup kecil. Dokter pun menganjurkan agar saya ditangani oleh rumah sakit yang khusus menangani penyakiat thalasemia yaitu adalah RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo).
 Dokter RSCM pun menganjurkan agar saya melakukan operasi penangkatan limpa tetapi orang tua saya menolak, dan dokter pada rumah sakit itupun menganjurkan transfusi darah setiap 2 minggu sekali, namun karena jarak yang lumayan jauh dan rasa takut akan suntikan membuat saya jaran datang kerumah sakit tersebut. karena saya datang kerumah sakit tersebut pada saat keadaan genting atau sel darah merah saya hampir habis orang tua saya pun mendapat omelan dari dokter yang memeriksa saya dirumah sakit tersebut. saya pun kasihan melihat orang tua saya diomelin karena  diri saya, hal-hal yang memicu sel darah merah cepat berkurang adalah karena keseringan bergadang dan terlalu lelah mengikuti suatu kegiatan. Pada saat itu saya mulai berdoa kepada tuhan dengan hati yang tulus meminta kesembuhan agar orang tua saya tidak perlu repot lagi mengantarkan saya kerumah sakit tersebut. Namun doa saya tidak begitu saja dikabulkan oleh tuhan, terbukti saya menderita penyakit Thalasemia selama 4 tahun dengan berkunjung keRSCM selama 14 kali dengan hal yang sama yaitu orang tua saya selalu dimarahi oleh dokter karena membawa saya kerumah sakit selalu terlambat. Tapi akhirnya pada awal tahun 2011 saya sudah tidak lagi keluar masuk kerumah sakit tersebut karena doa saya sudah dikabulkan oleh Allaw SWT dan penyakit Thalasemia yang saya derita sudah tidak ada lagi. Mulai dari saat itu saya mulai menghargai waktu dengan tidak bergadang jika tidak ada kegiatan melakukan suatu kegiatan jangan terlalu lelah dsb.

SELESAI
Pesan moral yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah hargailah kesehatan yang ada pada tubuh kta dengan cara bersyukur pada sang penciptan. Jika diberikan ujian oleh sang pencipta erdoalah agar kita dapat menghadapi ujian tersebut.
Sumber : Dede Khairuddin